Tugas Kelompok 3
Tentang Kajian Aqidah Islam
Mata Kuliah Syebar Dakwah
Putri Lestari (200305058)
Siti Rosdiana (200305055)
Dewi Lian Astutin (200305037)
Zaenuddin (200305064)
Mukramin (200305047)
Abstrak
Aqidah Islam berdasarkan berbagai literatur. Al-Qur'an dan As-Sunnah merupakan sastra utamanya, sesudah itu kedudukan kitab para mujtahid berada pada berikutnya. Aqidah Islam memiliki pemikiran yang khas tentang sebelum kehidupan, juga memiliki pemikiran yang khas tentang kehidupan, begitupun Aqidah Islam memiliki pemikiran yang khas pula tentang sesudah kehidupan. Pemahaman yang benar akan hal ini akan erat kaitannya dengan penyikapan akan kebidupan. Kekhasannya akan menunjukkan secara perbedaan Aqidah ini dari aqidah lainnya, yang perbedaan ini bisa jadi tidak hanya sebatas berbeda, tetapi bisa sampai kepada perbedaan yang kontradiktif. Ketika pemahaman yang benar akan Aqidah Islam ini bisa diraih, sungguh akan berefek kepada benar penyingkap akan kehidupan.Tidak bisa dipungkiri dan, Islam dan keshohihan pemikirannya, sehingga semakin memperkuatnya dan memperkuat pelukannya. Bagi yang tidak memeluknyapun, jika dia mencintai kebenaran, memerlukan ilmu/informasi yang benar tentang Aqidah Islam dan keshohihan pemikirannya, sehingga pemahamannya benar dan ketika memberikan penilaian tentang Aqidah Islam, penilaiannya merupakan penilaian yang tepat. Karena jika menilai sesuatu dengan pemahaman yang salah, itu berarti melihat benda dengan bingkai kaca mata yang salah, akan menghasilkan pandangan dan penilaian yang salah pula. Penilaian yang bisa jadi bertolak belakang dengan faktanya.
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Agama Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW memiliki tiga pilar utama, yang antara satu dengan lainnya saling berkaitan bahkan saling melengkapi dan menentukan: Aqidah, Syari'ah dan akhlak, namun sebagai pintu keamanan terakhir dari penghakiman segala niat dan i'tikad serta perbuatan manusia tergabung dalam "pintu Aqidah"; yakni sejauh mana kemampuan dan keberhasilan manusia selama hidupnya dapat menjalani berbagai ujian dan terakhir adalah ujian untuk lolos dan lulus dalam keyakinan bahwa segala-galanya adalah milik dan ditentukan atas ke-Maha Kuasaan dalam Keesaan Allah SWT. Manusia hidup dalam setiap kurun waktu zamannya, setiap zamannya, setiap zaman punya ciri khas godaan dalam berbagai aspeknya, sampai sejauh mana setiap orang menganut Islam dengan usaha untuk beriman kepada Allah SWT dengan semurni-murninya dan beramal seikhlas-ikhlasnya, namun niatan itu tentu tidak aman dan semulus untuk meniti jalan, selamat sampai tujuan, melaikan setiap langkah telah diayunkan oleh dua makhluk Allah SWT yakni Malaikat (senantiasa mengajak kepada hal-hal yang diridhai Allah SWT, sementara qarin dari jin yang senantiasa berkedok syetan senantiasa pula mengajak kepada hal-hal yang dilaknat oleh Allah SWT sesuai dengan posisi yang telah Allah tetapkan kepada Iblis sepanjang masa. Aqidah merupakan kesatuan yang tidak pernah berubah dan berbeda dari awal diutusnya Nabi Allah SWT yakni Adam Alaihimussalam sampai kepada Rasul Terakhirnya Muhammad SAW, walaupun pergantian zaman, tempat dan umat atau tidak ada konsep perbedaan untuk setiap golongan atau masyarakat, sebagai mana yang difirmankan Allah SWT dalam surah Al-Qur'an As-Sura ayat 13.
Jelas makna ayat tersebut menunjukkan bahwa agama yang disyari'atkan oleh Allah SWT kepada kita muslim muslimat adalah sebagaimana yang pernah diwasiatkan kepada Rasul-RasulNYA yang dahulu, yakni agama yang merupakan pkok-pokok aqidah dan tiang-tiang atau rukun-rukun keimana, jadi bukan cabang-cabang agama atau syari'at-syari'atnya amaliah yang sesuai dengan keadaan dan keyakinan mereka sendiri (tergantung siapa saja pengaruh yang dicondonginya, hal-ikhwal serta jalan pikiran dan perasaannya. Aqidah merupakan kepercayaan atau keimanan, tempatnya di dalam hati dan jiwa , untuk itu sangat diperlukan adanya pendidikan yang dapat mengisi hati, jiwa dan otak manusia sebagai langkah dan usaha untuk mendapatkan hidayahnya dan rahmat Allah SWT, karena dengan ketauhidan yang murni dapat menjadikan manusia terbebas dari segala selir dan ketergantungan dalam menjalani hidupnya kecuali kepada Kemahakuasaan Allah SWT, sehingga hidupnya selalu optimis dan dinamis untuk mendapatkan redha Allah SWT dengan penuh ketenangan dan kedamaian dalam seluruh ruang lingkup kehidupannya.
Aqidah Islam yang ada di tengah masyarakat, mulai dari garis bawah, yakni rakyat biasa, sampai ke garis atas, para pengambil kebijakan. Mulai kalangan dari umat Islam yang mengaku menyakininya dan memeluknya sampai kepada orang yang tidak memeluknya tetapi mencoba memberikan tanggapan tentangnya. Tidak jarang disebabkan kesalahfahamannya tentang Aqidah Islam, mereka memberi penilaian dan penyikapan yang salah tentang Aqidah Islam. Bagi yang mengaku menganut Aqidah Islam perlu mendapat pencerahan Aqidah, semata karena melihat dengan jelas keshohihan pemikirannya.Bagi yang bukan pemeluknya, tetapi ingin memberi tanggapan atau pendapat bahkan penilaian tentang Aqidah Islam, akan dapat melakukannya dengan tepat dan benar, jika sebelumnya memiliki pemahaman yang benar tentang keshohihan pemikiran Aqidah Islam
PEMBAHASAN
A. Definisi Akidah
Aqidah mari kita tinjau dari dua sudut. Pengertian pertama aqidah secara bahasa adalah simpul, janji, jual, beli. Simpul adalah pemersatu atas dua utas tali. Jika ingin mengidentifikasi dua tali yang terpisah, maka harus di buat simpul. Jadi antara aqidah dan orang yang menyakini aqidah tersebut, tidak akan terpisahkan kecuali dengan memutus simpulannya. Aqidah secara bahasa juga bisa berarti janji. Dalam masalah pernikahan, sebelum aqad nikah, banyak perbuatan yang hukumnya haram bagi perempuan dan laki-lakinya. Memandang sajapun haram hukumnya, jika pandangan itu mengandung syahwat. Setelah 'aqad, segala sesuatu menjadi berbeda. Tidak hanya memandang, bahkan yang lebih dari itu bukan hanya halal, tetapi justru bernilai ibadah. Aqad juga bisa berarti jual beli. Dengan adanya' aqad menyebabkan kondisi berubah kontradiktif dari kondisi sebelum 'aqad. Sebelum 'aqad, uang milik si A, dan buku milik si B.Tetapi, begitu selesai 'aqad, berpindah, uang menjadi milik si B, sedangkan buku menjadi milik si A Pengertian Aqidah secara syar'i, adalah pemikiran yang mendasar dan menyeluruh tentang alam,manusia dan hidup, tentang apa-apa yang ada sebelum kehidupan, tentang apa-apa ketika kehidupan dan tentang apa-apa yang ada setelah kehidupan, serta hubungan antara ketiganya. Aqidah atau pemikiran ini, menjadi penentu perilaku individu. Setiap manusia selalu dan hanya akan berbuat sesuai pemikirannya. Si A punya pemikiran mumpung hidup, mumpung paruh, puas-puasin dah. Maka kita menemukan dia mengambil apa saja yang dia anggap memberikan kenikmatan hidup buat dirinya sendiri. Korupsi ? Wah, nih. aqad, uang milik si A, dan buku milik si B.Tetapi, begitu selesai 'aqad, berpindah, uang menjadi milik si B, sedangkan buku menjadi milik si A Pengertian Aqidah secara syar'i, adalah pemikiran yang mendasar dan menyeluruh tentang alam, manusia dan hidup, tentang apa-apa yang ada sebelum kehidupan, tentang apa-apa ketika kehidupan dan tentang apa-apa yang ada setelah kehidupan, serta hubungan antara ketiganya. Aqidah atau pemikiran ini, menjadi penentu perilaku individu. Setiap manusia selalu dan hanya akan berbuat sesuai pemikirannya. Si A punya pemikiran mumpung hidup, mumpung paruh, puas-puasin dah. Maka kita menemukan dia mengambil apa saja yang dia anggap memberikan kenikmatan hidup buat dirinya sendiri. Korupsi ? Wah, nih. aqad, uang milik si A, dan buku milik si B.Tetapi, begitu selesai 'aqad, berpindah, uang menjadi milik si B, sedangkan buku menjadi milik si A Pengertian Aqidah secara syar'i, adalah pemikiran yang mendasar dan menyeluruh tentang alam, manusia dan hidup, tentang apa-apa yang ada sebelum kehidupan, tentang apa-apa ketika kehidupan dan tentang apa-apa yang ada setelah kehidupan, serta hubungan antara ketiganya. Aqidah atau pemikiran ini, menjadi penentu perilaku individu. Setiap manusia selalu dan hanya akan berbuat sesuai pemikirannya. Si A punya pemikiran mumpung hidup, mumpung paruh, puas-puasin dah. Maka kita menemukan dia mengambil apa saja yang dia anggap memberikan kenikmatan hidup buat dirinya sendiri. Korupsi ? Wah, nih. sedangkan buku menjadi milik si A Pengertian Aqidah secara syar'i, adalah pemikiran yang mendasar dan menyeluruh tentang alam, manusia dan hidup, tentang apa-apa yang ada sebelum kehidupan, tentang apa-apa ketika kehidupan dan tentang apa-apa yang ada setelah kehidupan , serta hubungan antara ketiganya. Aqidah atau pemikiran ini, menjadi penentu perilaku individu. Setiap manusia selalu dan hanya akan berbuat sesuai pemikirannya. Si A punya pemikiran mumpung hidup, mumpung paruh, puas-puasin dah. Maka kita menemukan dia mengambil apa saja yang dia anggap memberikan kenikmatan hidup buat dirinya sendiri. Korupsi ? Wah, nih. sedangkan buku menjadi milik si A Pengertian Aqidah secara syar'i, adalah pemikiran yang mendasar dan menyeluruh tentang alam, manusia dan hidup, tentang apa-apa yang ada sebelum kehidupan, tentang apa-apa ketika kehidupan dan tentang apa-apa yang ada setelah kehidupan , serta hubungan antara ketiganya. Aqidah atau pemikiran ini, menjadi penentu perilaku individu. Setiap manusia selalu dan hanya akan berbuat sesuai pemikirannya. Si A punya pemikiran mumpung hidup, mumpung paruh, puas-puasin dah. Maka kita menemukan dia mengambil apa saja yang dia anggap memberikan kenikmatan hidup buat dirinya sendiri. Korupsi ? Wah, nih. tentang apa-apa ketika kehidupan dan tentang apa-apa yang ada setelah kehidupan, serta hubungan antara ketiganya. Aqidah atau pemikiran ini, menjadi penentu perilaku individu. Setiap manusia selalu dan hanya akan berbuat sesuai pemikirannya. Si A punya pemikiran mumpung hidup, mumpung paruh, puas-puasin dah. Maka kita menemukan dia mengambil apa saja yang dia anggap memberikan kenikmatan hidup buat dirinya sendiri. Korupsi ? Wah, nih. tentang apa-apa ketika kehidupan dan tentang apa-apa yang ada setelah kehidupan, serta hubungan antara ketiganya. Aqidah atau pemikiran ini, menjadi penentu perilaku individu. Setiap manusia selalu dan hanya akan berbuat sesuai pemikirannya. Si A punya pemikiran mumpung hidup, mumpung paruh, puas-puasin dah. Maka kita menemukan dia mengambil apa saja yang dia anggap memberikan kenikmatan hidup buat dirinya sendiri. Korupsi ? Wah, nih.
Hasilnya nikmati buat foya-foya, berjudi, main perempuan. Bagi si A hidup ini bebas, jadi mumpung hidup Si B mempunyai pemikiran bahwa dalam hidup ini ada aturan yang harus dilaksanakan, hidup ini hanya sementara. Jika hidup ini berakhir, maka akan masuk ke dalam kehidupan yang kekal. Dimana akan dipertanggung jawabkan pembunuhan apapun yang dilakukan. Maka ia akan hidup dengan sangat hati-hati. Ketika dia memposting, jangankan korupsi, menerima pun (sogok) dia tidak akan melakukannya. Maka ia hanya akan menikmati gajinya. Menggunakannya untuk hal-hal yang sesuai dengan aturan dari Sang Pengatur. Untuk kebutuhan hidup orang tuanya, isterinya, kebutuhan hidup anak-anaknya. Tidak akan mengambil yang bukan haknya.Tidak akan membelanjakan hartanya pada jalan yang salah,yang tidak sesuai dengan aturan dari Sang Pengatur. Apalagi sampai berjudi, foya-foya, bermain perempuan Aqidah/pemikiran, tidak semuanya benar. Tetapi ada yang salah dan ada juga yang benar. Bisa menyaksikan seberapa aqidah/pemikiran yang menyebabkan perilaku/perbuatan si A dan Si B demikian kontradiktif. Sangat berbeda, bahkan bertolak belakang. Demikianlah aqidah mengikat orang yang menyakininya.Si B yang dibekukan oleh Aqidah Islam. Si A dingin oleh aqidah yang lain. Boleh jadi aqidah skuler/kapital/liberal atau aqidah sosialis/komunis.Untuk mampu mengidentifikasi, mampu memahami dan mampu memilih serta mampu memperkuat pegangan akan pilihan akidah yang benar maka kami menganggap perlu menyampaikan materi ini kepada pembaca. Bisa menyaksikan seberapa aqidah/pemikiran yang menyebabkan perilaku/perbuatan si A dan Si B demikian kontradiktif. Sangat berbeda, bahkan bertolak belakang. Demikianlah aqidah mengikat orang yang menyakininya.Si B yang dibekukan oleh Aqidah Islam. Si A dingin oleh aqidah yang lain. Boleh jadi aqidah skuler/kapital/liberal atau aqidah sosialis/komunis. Untuk mampu mengidentifikasi, mampu memahami dan mampu memilih serta mampu memperkuat pegangan akan pilihan akidah yang benar maka kami menganggap perlu menyampaikan materi ini kepada pembaca.Bisa menyaksikan seberapa aqidah/pemikiran yang menyebabkan perilaku/perbuatan si A dan Si B demikian kontradiktif. Sangat berbeda, bahkan bertolak belakang. Demikianlah aqidah mengikat orang yang menyakininya.Si B yang dibekukan oleh Aqidah Islam. Si A dingin oleh aqidah yang lain. Boleh jadi aqidah skuler/kapital/liberal atau aqidah sosialis/komunis. Untuk mampu mengidentifikasi, mampu memahami dan mampu memilih serta mampu memperkuat pegangan akan pilihan akidah yang benar maka kami menganggap perlu menyampaikan materi ini kepada pembaca.[1]
Aqidah Menurut Istilah Umum membawa maksud satu keputusan yang terkeluar dari dalam hati sanubari seseorang dengan sungguh-sungguh sewaktu memutuskan sesuatu perkara, sama ada keputusan yang diambil itu benar atau salah. Sekiranya keputusan yang diambil itu benar dan tepat maka ia adalah aqidah yang benar, seperti beriktiqad dengan keesaan Allah SWT sebaliknya kalau salah, batil atau palsu maka salahlah aqidah tersebut, seperti beriktiqad Allah atau Tuhan itu lebih dari satu sebagaimana yang diyakini oleh sebahagian manusia. Aqidah juga dapat diertikan sebagai iman yang kuat di dalam hati dan keyakinan yang mantap di dalam jiwa yang tidak boleh digoncang walaupun menimbulkan berbagai keraguan dan salah faham terhadapnya. Ia adalah satu keyakinan yang dipegang dan diimani oleh setiap manusia,[2]
B. Peran Keluarga dalam Pedidikan Aqidah Islam Kepada Anak
lingkungan hidup pertama dan utama bagi setiap anak. Dalam keluarga, peran orang tua memiliki pengaruh yang sangat besar dan tanggung jawab membimbing anak-anaknya serta menanamkan nilai-nilai aqidah menjadi dasar pengaturan untuk memelihara kehidupan selanjutnya. Sehingga pada berbagai ragam situasi dan kondisi dalam lingkungan keluarga. Keluarga berperan sebagai faktor pelaksana dalam mewujudkan nilai-nilai, keyakinan-keyakinan dan persepsi budaya sebuah masyarakat. Ayah dan ibu yang harus melaksanakan tugasnya di hadapan anaknya. Khususnya ibu yang harus memfokuskan dirinya dalam menjaga akhlak, jasmani dan kejiwaannya pada masa pra kehamilan sampai masa kehamilan dengan harapan Allah memberikan kepadanya anak yang sehat dan saleh.bahwa orang tua berkewajiban memelihara diri dan keluarganya dari hal-hal yang tidak pantas, serta terlebih dahulu menjalankan perintah agama secara baik. Sebab anak lebih cenderung meniru dan mengikuti kebiasaan yang ada dalam lingkungan hidupnya. Jadi jika orang tua memiliki kebiasaan melakukan hal-hal yang baik, maka anak-akan menjadi manusia saleh, karena sejak kecil sudah ditempa hal-hal yang baik. [3]
Penguatan Aqidah Islam Unsur penting dalam beragama ialah memiliki keyakinan atau kepercayaan sebagai panduan dalam melaksanakan perintah agama, sehingga seorang dapat melasanakan dengan baik dan benar. Dalam Islam Aqidah merupakan inti penting dari keyakinan, karena dengan aqidah seorang mempunyai keyakinan pasti. Islam mempunyai dua unsur besar, yaitu rukun Iman dan rukun Islam. Aqidah berasal dari Bahasa Arab dari lafa aqda, yaqudu aqidatan yang mempunyai arti ikatan (Mu'minin, 2008). Menurut Ngulwiyah et.all (2021) nilai-nilai Aqidah sangat perlu untuk dibina dan diterapkan kepada anak sejak dini sebagai penyesuaian sehingga nilai-nilai tersebut dapat dibentuk dan dibawa oleh anak hingga dewasa.Aqidah diangga penting bagi manusia, karena dengan aqidah seorang bisa mempunyai keyakinan yang benar. Dalam proses pencariannya, baiknya aqidah diajakarna sejak dini, supaya siswa terbentuk kepribadiaanya secara islami. Dengan sederhana, siswa yang memiliki akidah akan memiliki pandangan pemikira, sikap dan perilaku sesuai dengan ajaran Islam, serta tidak mudah goyah dalam menjalani kehidupan. Adapun Prinsip pengasuhan anak menurut Maurice J. Elias mengatakan, ada 5 prinsip mengasuh anak dengan EQ, yaitu;1. Sadari perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain, 2. Tunjukkan Empati dan pahami cara pandang orang lain, 3. Atur dan atasi dengan gejolak emosional dan perilaku positif, 4. Berorientasi pada tujuan dan rencana positif, 5. Gunakan adegan sosial positif dalam membina hubungan [4]
C.Hubungan Aqidah dengan Akhlak
Aqidah adalah gudang akhlak yang kokoh. Ia mampu menciptakan kesadaran diri bagi umat manusia untuk berpegang teguh pada norma dan nilai-nilai akhlak yang luhur. Akhlak mendapatkan perhatian istimewa dalam aqidah Islam. Rasulullah SAW berdoa yang artinya : “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR. Ahmad dan al-Baihaqi). Islam menggabungkan antara agama yang hak dan akhlak. Menurut teori ini, agama menyarankan setiap individu untuk berakhlak mulia dan menjadikannya sebagai kewajiban (taklif) di atas pundaknya yang dapat mendatangkan pahala atau siksa baginya. Atas dasar ini agama tidak mengemukakan akhlak semata tanpa dibebani rasa tanggung jawab.Bahkan agama menganggap akhlak sebagai penyempurna ajaran-ajarannya karena agama tersusun darinya keyakinan (aqidah) dan perilaku. Oleh karena itu akhlak dalam pandangan Islam harus berpijak pada keimanan. Iman tidak hanya disimpan dalam hati, namun harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari dalam bentuk akhlak yang baik. Dengan kata lain bahwa untuk melatih dan menjalankan bagian aqidah dan ibadah, perlu juga berpegang teguh dan teguh dalam mewujudkan bagian lain yang disebut dengan bagian akhlak. Sejarah risalah ketuhanan dalam seluruh prosesnya telah membuktikan bahwa kesulitan dalam pekerjaan melukis lapangan hanya diperoleh dengan perjalanan budi pekerti (berakhlak mulia). Hasbi Ash Shiddieqy di dalam bukunya Al Islam mengatakan bahwa kepercayaan dan Budi pekerti dalam pandangan Al-Quran hampir dihukum satu, dihukum setaraf, sederajat. Lantaran demikianlah Tuhan yang melindungi kehormatan kepada akhlak dan meninggikan kedudukannya. Bahkan Allah memerintahkan seorang muslim memelihara akhlaknya dengan kata-kata perintah yang pasti, terang, dan jelas. Para muslim tidak dibenarkan sedikit pun menyia-nyiakan akhlaknya, bahkan tak boleh memudah-mudahkannya Aqidah tanpa akhlak adalah seumpama sebatang pohon yang tidak dapat dijadikan tempat perlindungan empati di saat panas dan tidak pula ada buahnya yang dapat dipetik. akhlak Melawan tanpa akidah hanya merupakan layang-layang bagi benda yang tidak tetap, yang selalu bergerak. Oleh karena itu Islam memberikan perhatian yang serius terhadap pendidikan akhlak.
Rasulullah SAW menyebutkan bahwa kesempurnaan iman seseorang terletak pada kesempurnaan dan kebaikan akhlaknya. Sabda beliau: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah mereka yang paling baik akhlaknya”. ( HR.Muslim) Demikian pula untuk melihat kuat atau lemahnya iman dapat diketahui melalui tingkah laku (akhlak) seseorang, karena tingkah laku tersebut merupakan perwujudan dari imannya yang ada di dalam hati. Jika perbuatannya baik, pertanda ia mempunyai iman yang kuat; dan jika perbuatan buruk, maka dapat dikatakan ia mempunyai iman yang lemah. Dengan kata lain bahwa iman yang kuat mewujudkan akhlak yang baik dan mulia, sedang iman yang lemahmewujudkan akhlak yang jahat dan buruk. Nabi Muhammad SAW telah menjelaskan bahwa iman yang kuat itu akan melahirkan perang yang mulia dan rusaknya akhlak berpangkal dari lemahnya iman. Orang yang marah tidak baik dikatakan oleh Nabi sebagi orang yang kehilangan iman. Dia pernah tidur: ”Malu dan iman itu keduanya bergandengan, jika hilang salah satunya, maka hilang pula yang lain”. (HR. Hakim) Kalau diperhatikan hadits di atas, nyatalah bahwa rasa malu sangat berpautan dengan iman hingga boleh dikatakan bahwa setiap orang yang beriman pastilah ia memiliki rasa malu; dan jika ia tidak mempunyai rasa malu, berarti tidak beriman atau lemah imannya. Aqidah erat kaitannya dengan akhlak.Aqidah merupakan landasan dan dasar pijakan untuk semua perbuatan.
Akhlak adalah tuntutan perbuatan baik dari seorang mukalaf, baik dipertentangkan dengan Allah, sesama manusia, maupun lingkungan hidupnya. Berbagai amal perbuatan tersebut akan memiliki nilai ibadah dan keseimbangan dari berbagai penyimpangan jika diimbangi dengan keyakinan aqidah yang kuat. Oleh sebab itu, keduanya tidak dapat dipisahkan, seperti halnya antara jiwa dan raga. Hal ini dipertegas oleh Allah SWT dalam Al-Quran, yang mengemukakan bahwa orang beriman yang melakukan berbagai amal shaleh akan memperoleh keharmonisan pahala disisi-Nya. Dia akan dimasukkan ke dalam surga Firdaus. Penegasan ini dikemukakan dalam firman Allah SWT.sebagai berikut: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka surga Firdaus menjadi tempat tinggal, Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak mau pindah darinya” (QS. Al-Kahfi: 107-108). Ayat di atas memperlihatkan betapa pentingnya aqidah dan akhlak, dengan keterpaduan keduanya seseorang akan memperoleh pahala yang besar di sisi Allah dengan jaminan surga Firdaus. Hubungan antara aqidah dan akhlak ini pemyataan dalam markas dalam markas Nabi Muhammad S AW yang diriwayatkan dari Abu Hurairah yang artinya: “Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW. Bersenang-senang, 'orang mukmin yang sempurna imannya adalah yang terbaik budi pekertinya'”. Dasar pendidikan akhlak bagi seorang muslim adalah aqidah yang benar, karena akhlak tersarikan dari aqidah dan pancaran dirinya. Oleh karena itu jika seorang berakidah dengan benar, niscaya akhlaknya pun akan benar, baik dan lurus. Begitu pula sebaliknya, jika aqidah salah maka akhlaknya pun akan salah. Dengan akhlak yang baik seseorang akan dapat memperkuat aqidah dan dapat menjalankan ibadah dengan baik dan benar, dengan itu ia akan mampu mengimplementasikan tauhid ke dalam akhlak yang mulia (akhlaqul karimah). Hubungan manusia dengan Allah SWT dan kelakuannya terhadap Allah SWT ditentukan
dengan mengikut nilai-nilai akidah yang ditetapkan. Karena barangsiapa mengetahui Sang
Penciptanya dengan benar, niscaya ia akan dengan mudah berperilaku baik sebagaimana mestinya
perintah Allah. Sehingga ia tidak mungkin menjauh atau bahkan meninggalkan perilaku-perilaku
yang telah ditetapkan-Nya. [5]
Kesimpulan
SEBUAH. Pendidikan aqidah Islam merupakan suatu proses usaha yang berupa pengajaran, bimbingan, pengarahan, pembinaan kepada manusia agar nantinya dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan aqidah Islam yang telah diyakini secara menyeluruh, mengembangkan dan memantapkan kemampuannya dalam mengenal Allah, serta menjadikan aqidah Islam itu sebagai suatu pandangan hidupnya dalam berbagai kehidupan baik pribadi, keluarga, maupun kehidupan masyarakat demi keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat dengan dilandasi oleh keyakinan kepada Allah semata. Keluarga adalah lingkungan hidup pertama dan utama bagi setiap anak. Dalam keluarga,
Orang tua bertanggung jawab membimbing anak-anak serta menanamkan nilai-nilai aqidah menjadi dasar penentu bagi mempertahankan kehidupan selanjutnya.Sebab dengan aqidah yang kuat akan mampu menjadi benteng bagi anak sehingga tidak mudah tergoncang jiwanya dan tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang dapat merusak keimanannya . Kaitannya dengan pendidikan aqidah Islam, penerapannya dalam keluarga diperlukan pula penggunaan suatu metode. Sehingga suasana dan lingkungan keluarga yang kondusif akan lebih membantu cara dan tehnik pendorong pendidikan aqidah bagi anak-anak. Yang dimaksud metode pendidikan aqidah dalam keluarga adalah cara yang dapat ditempuh dalam memudahkan tujuan pendidikan aqidah dalam keluarga.Diantara metode yang dapat digunakan orang tua dalam pendidikan Aqidah Islam pada anak diantaranya adalah mengenalkan kalimat tauhid, keteladanan, pembiasaan, nasehat, dan pengawasan. Yang mana semua metode itu saling berkaitan dan harus dilaksanakan secara layang-layang. oleh karena itu hasil dari pendidikan aqidah dalam keluarga tidak dapat dilihat langsung hasilnya. Namun berkembang secara terus menerus sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak. Penggunaan metode yang tepat akan mampu mewujudkan tujuan pendidikan yang diharapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Moh Muhtador dkk, “Pemberdayaan lembaga keagamaam dalam memperkuat aqidah Islam bagi masyarakat urban Kota Semarang” Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (Vol. 2 No. 1 thn 2011),
Nur Asyiah Siregar “ Aqidah Islam Analisa Terhadap Keshohihan Pemikirannya” Jurnal Aqidah Islam (Vol. 9 No. 1 thn 2020),
Ibnu Faris, Mu'jam Maqayis al-Lughah, kata-kata {aqada),
Yeri Utami, “Metode Pendidikan Aqidah Islam Pada Anak Dalam Keluarga” Jurnal Ilmiah Pedagogi (Vol. 14 No. 1 thn 2019),
Alnida Azty DKK, “Hubungan antara Aqidah dan Akhlak dalam Islam” Jurnal Pendidikan, Humaniora dan Ilmu Sosial ( Vol. 1 No. 2 thn 2018),
[1] Nur Asyiah Siregar “ Aqidah Islam Analisa Terhadap Keshohihan Pemikirannya” Jurnal Aqidah Islam (Vol. 9 No. 1 thn 2020), hlm 100
[2]Ibnu Faris, Mu'jam Maqayis al-Lughah, kata {aqada), juz. 4, h. 87-90.
[3]Yeri Utami, “Metode Pendidikan Aqidah Islam Pada Anak Dalam Keluarga” Jurnal Ilmiah Pedagogi (Vol. 14 No. 1 thn 2019), hlm 131-132
[4]Moh Muhtador dkk, “Pemberdayaan lembaga keagamaam dalam memperkuat aqidah Islam bagi masyarakat urban Kota Semarang” Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (Vol. 2 No. 1 thn 2011), hlm 84-85
[5]Alnida Azty DKK, “Hubungan antara Aqidah dan Akhlak dalam Islam” Jurnal Pendidikan, Humaniora dan Ilmu Sosial ( Vol. 1 No. 2 thn 2018), hlm 124-125Tugas Kelompok 3
Tentang Kajian Aqidah Islam
Mata Kuliah Syebar Dakwah
Putri Lestari (200305058)
Siti Rosdiana (200305055)
Dewi Lian Astutin (200305037)
Zaenuddin (200305064)
Mukramin (200305047)
Abstrak
Aqidah Islam berdasarkan berbagai literatur. Al-Qur'an dan As-Sunnah merupakan sastra utamanya, sesudah itu kedudukan kitab para mujtahid berada pada berikutnya. Aqidah Islam memiliki pemikiran yang khas tentang sebelum kehidupan, juga memiliki pemikiran yang khas tentang kehidupan, begitupun Aqidah Islam memiliki pemikiran yang khas pula tentang sesudah kehidupan. Pemahaman yang benar akan hal ini akan erat kaitannya dengan penyikapan akan kebidupan. Kekhasannya akan menunjukkan secara perbedaan Aqidah ini dari aqidah lainnya, yang perbedaan ini bisa jadi tidak hanya sebatas berbeda, tetapi bisa sampai kepada perbedaan yang kontradiktif. Ketika pemahaman yang benar akan Aqidah Islam ini bisa diraih, sungguh akan berefek kepada benar penyingkap akan kehidupan.Tidak bisa dipungkiri dan, Islam dan keshohihan pemikirannya, sehingga semakin memperkuatnya dan memperkuat pelukannya. Bagi yang tidak memeluknyapun, jika dia mencintai kebenaran, memerlukan ilmu/informasi yang benar tentang Aqidah Islam dan keshohihan pemikirannya, sehingga pemahamannya benar dan ketika memberikan penilaian tentang Aqidah Islam, penilaiannya merupakan penilaian yang tepat. Karena jika menilai sesuatu dengan pemahaman yang salah, itu berarti melihat benda dengan bingkai kaca mata yang salah, akan menghasilkan pandangan dan penilaian yang salah pula. Penilaian yang bisa jadi bertolak belakang dengan faktanya.
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Agama Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW memiliki tiga pilar utama, yang antara satu dengan lainnya saling berkaitan bahkan saling melengkapi dan menentukan: Aqidah, Syari'ah dan akhlak, namun sebagai pintu keamanan terakhir dari penghakiman segala niat dan i'tikad serta perbuatan manusia tergabung dalam "pintu Aqidah"; yakni sejauh mana kemampuan dan keberhasilan manusia selama hidupnya dapat menjalani berbagai ujian dan terakhir adalah ujian untuk lolos dan lulus dalam keyakinan bahwa segala-galanya adalah milik dan ditentukan atas ke-Maha Kuasaan dalam Keesaan Allah SWT. Manusia hidup dalam setiap kurun waktu zamannya, setiap zamannya, setiap zaman punya ciri khas godaan dalam berbagai aspeknya, sampai sejauh mana setiap orang menganut Islam dengan usaha untuk beriman kepada Allah SWT dengan semurni-murninya dan beramal seikhlas-ikhlasnya, namun niatan itu tentu tidak aman dan semulus untuk meniti jalan, selamat sampai tujuan, melaikan setiap langkah telah diayunkan oleh dua makhluk Allah SWT yakni Malaikat (senantiasa mengajak kepada hal-hal yang diridhai Allah SWT, sementara qarin dari jin yang senantiasa berkedok syetan senantiasa pula mengajak kepada hal-hal yang dilaknat oleh Allah SWT sesuai dengan posisi yang telah Allah tetapkan kepada Iblis sepanjang masa.Aqidah merupakan kesatuan yang tidak pernah berubah dan berbeda dari awal diutusnya Nabi Allah SWT yakni Adam Alaihimussalam sampai kepada Rasul Terakhirnya Muhammad SAW, walaupun pergantian zaman, tempat dan umat atau tidak ada konsep perbedaan untuk setiap golongan atau masyarakat, sebagai mana yang difirmankan Allah SWT dalam surah Al-Qur'an As-Sura ayat 13.
Jelas makna ayat tersebut menunjukkan bahwa agama yang disyari'atkan oleh Allah SWT kepada kita muslim muslimat adalah sebagaimana yang pernah diwasiatkan kepada Rasul-RasulNYA yang dahulu, yakni agama yang merupakan pkok-pokok aqidah dan tiang-tiang atau rukun-rukun keimana, jadi bukan cabang-cabang agama atau syari'at-syari'atnya amaliah yang sesuai dengan keadaan dan keyakinan mereka sendiri (tergantung siapa saja pengaruh yang dicondonginya, hal-ikhwal serta jalan pikiran dan perasaannya. Aqidah merupakan kepercayaan atau keimanan, tempatnya di dalam hati dan jiwa , untuk itu sangat diperlukan adanya pendidikan yang dapat mengisi hati, jiwa dan otak manusia sebagai langkah dan usaha untuk mendapatkan hidayahnya dan rahmat Allah SWT, karena dengan ketauhidan yang murni dapat menjadikan manusia terbebas dari segala selir dan ketergantungan dalam menjalani hidupnya kecuali kepada Kemahakuasaan Allah SWT, sehingga hidupnya selalu optimis dan dinamis untuk mendapatkan redha Allah SWT dengan penuh ketenangan dan kedamaian dalam seluruh ruang lingkup kehidupannya.
Aqidah Islam yang ada di tengah masyarakat, mulai dari garis bawah, yakni rakyat biasa, sampai ke garis atas, para pengambil kebijakan. Mulai kalangan dari umat Islam yang mengaku menyakininya dan memeluknya sampai kepada orang yang tidak memeluknya tetapi mencoba memberikan tanggapan tentangnya. Tidak jarang disebabkan kesalahfahamannya tentang Aqidah Islam, mereka memberi penilaian dan penyikapan yang salah tentang Aqidah Islam. Bagi yang mengaku menganut Aqidah Islam perlu mendapat pencerahan Aqidah, semata karena melihat dengan jelas keshohihan pemikirannya.Bagi yang bukan pemeluknya, tetapi ingin memberi tanggapan atau pendapat bahkan penilaian tentang Aqidah Islam, akan dapat melakukannya dengan tepat dan benar, jika sebelumnya memiliki pemahaman yang benar tentang keshohihan pemikiran Aqidah Islam
PEMBAHASAN
A. Definisi Akidah
Aqidah mari kita tinjau dari dua sudut. Pengertian pertama aqidah secara bahasa adalah simpul, janji, jual, beli. Simpul adalah pemersatu atas dua utas tali. Jika ingin mengidentifikasi dua tali yang terpisah, maka harus di buat simpul. Jadi antara aqidah dan orang yang menyakini aqidah tersebut, tidak akan terpisahkan kecuali dengan memutus simpulannya. Aqidah secara bahasa juga bisa berarti janji. Dalam masalah pernikahan, sebelum aqad nikah, banyak perbuatan yang hukumnya haram bagi perempuan dan laki-lakinya. Memandang sajapun haram hukumnya, jika pandangan itu mengandung syahwat. Setelah 'aqad, segala sesuatu menjadi berbeda.Tidak hanya memandang, bahkan yang lebih dari itu bukan hanya halal, tetapi justru bernilai ibadah. Aqad juga bisa berarti jual beli. Dengan adanya' aqad menyebabkan kondisi berubah kontradiktif dari kondisi sebelum 'aqad. Sebelum 'aqad, uang milik si A, dan buku milik si B.Tetapi, begitu selesai 'aqad, berpindah, uang menjadi milik si B, sedangkan buku menjadi milik si A Pengertian Aqidah secara syar'i, adalah pemikiran yang mendasar dan menyeluruh tentang alam,manusia dan hidup, tentang apa-apa yang ada sebelum kehidupan, tentang apa-apa ketika kehidupan dan tentang apa-apa yang ada setelah kehidupan, serta hubungan antara ketiganya. Aqidah atau pemikiran ini, menjadi penentu perilaku individu.Setiap manusia selalu dan hanya akan berbuat sesuai pemikirannya. Si A punya pemikiran mumpung hidup, mumpung paruh, puas-puasin dah. Maka kita menemukan dia mengambil apa saja yang dia anggap memberikan kenikmatan hidup buat dirinya sendiri. Korupsi ? Wah, nih. aqad, uang milik si A, dan buku milik si B.Tetapi, begitu selesai 'aqad, berpindah, uang menjadi milik si B, sedangkan buku menjadi milik si A Pengertian Aqidah secara syar'i, adalah pemikiran yang mendasar dan menyeluruh tentang alam, manusia dan hidup, tentang apa-apa yang ada sebelum kehidupan, tentang apa-apa ketika kehidupan dan tentang apa-apa yang ada setelah kehidupan, serta hubungan antara ketiganya. Aqidah atau pemikiran ini, menjadi penentu perilaku individu.Setiap manusia selalu dan hanya akan berbuat sesuai pemikirannya. Si A punya pemikiran mumpung hidup, mumpung paruh, puas-puasin dah. Maka kita menemukan dia mengambil apa saja yang dia anggap memberikan kenikmatan hidup buat dirinya sendiri. Korupsi ? Wah, nih. aqad, uang milik si A, dan buku milik si B.Tetapi, begitu selesai 'aqad, berpindah, uang menjadi milik si B, sedangkan buku menjadi milik si A Pengertian Aqidah secara syar'i, adalah pemikiran yang mendasar dan menyeluruh tentang alam, manusia dan hidup, tentang apa-apa yang ada sebelum kehidupan, tentang apa-apa ketika kehidupan dan tentang apa-apa yang ada setelah kehidupan, serta hubungan antara ketiganya. Aqidah atau pemikiran ini, menjadi penentu perilaku individu.Setiap manusia selalu dan hanya akan berbuat sesuai pemikirannya. Si A punya pemikiran mumpung hidup, mumpung paruh, puas-puasin dah. Maka kita menemukan dia mengambil apa saja yang dia anggap memberikan kenikmatan hidup buat dirinya sendiri. Korupsi ? Wah, nih. sedangkan buku menjadi milik si A Pengertian Aqidah secara syar'i, adalah pemikiran yang mendasar dan menyeluruh tentang alam, manusia dan hidup, tentang apa-apa yang ada sebelum kehidupan, tentang apa-apa ketika kehidupan dan tentang apa-apa yang ada setelah kehidupan , serta hubungan antara ketiganya. Aqidah atau pemikiran ini, menjadi penentu perilaku individu. Setiap manusia selalu dan hanya akan berbuat sesuai pemikirannya.Si A punya pemikiran mumpung hidup, mumpung paruh, puas-puasin dah. Maka kita menemukan dia mengambil apa saja yang dia anggap memberikan kenikmatan hidup buat dirinya sendiri. Korupsi ? Wah, nih. sedangkan buku menjadi milik si A Pengertian Aqidah secara syar'i, adalah pemikiran yang mendasar dan menyeluruh tentang alam, manusia dan hidup, tentang apa-apa yang ada sebelum kehidupan, tentang apa-apa ketika kehidupan dan tentang apa-apa yang ada setelah kehidupan , serta hubungan antara ketiganya. Aqidah atau pemikiran ini, menjadi penentu perilaku individu. Setiap manusia selalu dan hanya akan berbuat sesuai pemikirannya. Si A punya pemikiran mumpung hidup, mumpung paruh, puas-puasin dah.Maka kita menemukan dia mengambil apa saja yang dia anggap memberikan kenikmatan hidup buat dirinya sendiri. Korupsi ? Wah, nih. tentang apa-apa ketika kehidupan dan tentang apa-apa yang ada setelah kehidupan, serta hubungan antara ketiganya. Aqidah atau pemikiran ini, menjadi penentu perilaku individu. Setiap manusia selalu dan hanya akan berbuat sesuai pemikirannya. Si A punya pemikiran mumpung hidup, mumpung paruh, puas-puasin dah. Maka kita menemukan dia mengambil apa saja yang dia anggap memberikan kenikmatan hidup buat dirinya sendiri. Korupsi ? Wah, nih. tentang apa-apa ketika kehidupan dan tentang apa-apa yang ada setelah kehidupan, serta hubungan antara ketiganya.Aqidah atau pemikiran ini, menjadi penentu perilaku individu. Setiap manusia selalu dan hanya akan berbuat sesuai pemikirannya. Si A punya pemikiran mumpung hidup, mumpung paruh, puas-puasin dah. Maka kita menemukan dia mengambil apa saja yang dia anggap memberikan kenikmatan hidup buat dirinya sendiri. Korupsi ? Wah, nih.
Hasilnya nikmati buat foya-foya, berjudi, main perempuan. Bagi si A hidup ini bebas, jadi mumpung hidup Si B mempunyai pemikiran bahwa dalam hidup ini ada aturan yang harus dilaksanakan, hidup ini hanya sementara. Jika hidup ini berakhir, maka akan masuk ke dalam kehidupan yang kekal. Dimana akan dipertanggung jawabkan pembunuhan apapun yang dilakukan. Maka ia akan hidup dengan sangat hati-hati. Ketika dia memposting, jangankan korupsi, menerima pun (sogok) dia tidak akan melakukannya. Maka ia hanya akan menikmati gajinya. Menggunakannya untuk hal-hal yang sesuai dengan aturan dari Sang Pengatur. Untuk kebutuhan hidup orang tuanya, isterinya, kebutuhan hidup anak-anaknya. Tidak akan mengambil yang bukan haknya.Tidak akan membelanjakan hartanya pada jalan yang salah,yang tidak sesuai dengan aturan dari Sang Pengatur. Apalagi sampai berjudi, foya-foya, bermain perempuan Aqidah/pemikiran, tidak semuanya benar. Tetapi ada yang salah dan ada juga yang benar. Bisa menyaksikan seberapa aqidah/pemikiran yang menyebabkan perilaku/perbuatan si A dan Si B demikian kontradiktif. Sangat berbeda, bahkan bertolak belakang. Demikianlah aqidah mengikat orang yang menyakininya.Si B yang dibekukan oleh Aqidah Islam. Si A dingin oleh aqidah yang lain. Boleh jadi aqidah skuler/kapital/liberal atau aqidah sosialis/komunis.Untuk mampu mengidentifikasi, mampu memahami dan mampu memilih serta mampu memperkuat pegangan akan pilihan akidah yang benar maka kami menganggap perlu menyampaikan materi ini kepada pembaca. Bisa menyaksikan seberapa aqidah/pemikiran yang menyebabkan perilaku/perbuatan si A dan Si B demikian kontradiktif. Sangat berbeda, bahkan bertolak belakang. Demikianlah aqidah mengikat orang yang menyakininya.Si B yang dibekukan oleh Aqidah Islam. Si A dingin oleh aqidah yang lain. Boleh jadi aqidah skuler/kapital/liberal atau aqidah sosialis/komunis. Untuk mampu mengidentifikasi, mampu memahami dan mampu memilih serta mampu memperkuat pegangan akan pilihan akidah yang benar maka kami menganggap perlu menyampaikan materi ini kepada pembaca.Bisa menyaksikan seberapa aqidah/pemikiran yang menyebabkan perilaku/perbuatan si A dan Si B demikian kontradiktif. Sangat berbeda, bahkan bertolak belakang. Demikianlah aqidah mengikat orang yang menyakininya.Si B yang dibekukan oleh Aqidah Islam. Si A dingin oleh aqidah yang lain. Boleh jadi aqidah skuler/kapital/liberal atau aqidah sosialis/komunis. Untuk mampu mengidentifikasi, mampu memahami dan mampu memilih serta mampu memperkuat pegangan akan pilihan akidah yang benar maka kami menganggap perlu menyampaikan materi ini kepada pembaca.[1]
Aqidah Menurut Istilah Umum membawa maksud satu keputusan yang terkeluar dari dalam hati sanubari seseorang dengan sungguh-sungguh sewaktu memutuskan sesuatu perkara, sama ada keputusan yang diambil itu benar atau salah. Sekiranya keputusan yang diambil itu benar dan tepat maka ia adalah aqidah yang benar, seperti beriktiqad dengan keesaan Allah SWT sebaliknya kalau salah, batil atau palsu maka salahlah aqidah tersebut, seperti beriktiqad Allah atau Tuhan itu lebih dari satu sebagaimana yang diyakini oleh sebahagian manusia. Aqidah juga dapat diertikan sebagai iman yang kuat di dalam hati dan keyakinan yang mantap di dalam jiwa yang tidak boleh digoncang walaupun menimbulkan berbagai keraguan dan salah faham terhadapnya. Ia adalah satu keyakinan yang dipegang dan diimani oleh setiap manusia,[2]
B. Peran Keluarga dalam Pedidikan Aqidah Islam Kepada Anak
lingkungan hidup pertama dan utama bagi setiap anak. Dalam keluarga, peran orang tua memiliki pengaruh yang sangat besar dan tanggung jawab membimbing anak-anaknya serta menanamkan nilai-nilai aqidah menjadi dasar pengaturan untuk memelihara kehidupan selanjutnya. Sehingga pada berbagai ragam situasi dan kondisi dalam lingkungan keluarga. Keluarga berperan sebagai faktor pelaksana dalam mewujudkan nilai-nilai, keyakinan-keyakinan dan persepsi budaya sebuah masyarakat. Ayah dan ibu yang harus melaksanakan tugasnya di hadapan anaknya. Khususnya ibu yang harus memfokuskan dirinya dalam menjaga akhlak, jasmani dan kejiwaannya pada masa pra kehamilan sampai masa kehamilan dengan harapan Allah memberikan kepadanya anak yang sehat dan saleh.bahwa orang tua berkewajiban memelihara diri dan keluarganya dari hal-hal yang tidak pantas, serta terlebih dahulu menjalankan perintah agama secara baik. Sebab anak lebih cenderung meniru dan mengikuti kebiasaan yang ada dalam lingkungan hidupnya. Jadi jika orang tua memiliki kebiasaan melakukan hal-hal yang baik, maka anak-akan menjadi manusia saleh, karena sejak kecil sudah ditempa hal-hal yang baik. [3]
Penguatan Aqidah Islam Unsur penting dalam beragama ialah memiliki keyakinan atau kepercayaan sebagai panduan dalam melaksanakan perintah agama, sehingga seorang dapat melasanakan dengan baik dan benar. Dalam Islam Aqidah merupakan inti penting dari keyakinan, karena dengan aqidah seorang mempunyai keyakinan pasti. Islam mempunyai dua unsur besar, yaitu rukun Iman dan rukun Islam. Aqidah berasal dari Bahasa Arab dari lafa aqda, yaqudu aqidatan yang mempunyai arti ikatan (Mu'minin, 2008). Menurut Ngulwiyah et.all (2021) nilai-nilai Aqidah sangat perlu untuk dibina dan diterapkan kepada anak sejak dini sebagai penyesuaian sehingga nilai-nilai tersebut dapat dibentuk dan dibawa oleh anak hingga dewasa.Aqidah diangga penting bagi manusia, karena dengan aqidah seorang bisa mempunyai keyakinan yang benar. Dalam proses pencariannya, baiknya aqidah diajakarna sejak dini, supaya siswa terbentuk kepribadiaanya secara islami. Dengan sederhana, siswa yang memiliki akidah akan memiliki pandangan pemikira, sikap dan perilaku sesuai dengan ajaran Islam, serta tidak mudah goyah dalam menjalani kehidupan. Adapun Prinsip pengasuhan anak menurut Maurice J. Elias mengatakan, ada 5 prinsip mengasuh anak dengan EQ, yaitu;1. Sadari perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain, 2. Tunjukkan Empati dan pahami cara pandang orang lain, 3. Atur dan atasi dengan gejolak emosional dan perilaku positif, 4. Berorientasi pada tujuan dan rencana positif, 5. Gunakan adegan sosial positif dalam membina hubungan [4]
C.Hubungan Aqidah dengan Akhlak
Aqidah adalah gudang akhlak yang kokoh. Ia mampu menciptakan kesadaran diri bagi umat manusia untuk berpegang teguh pada norma dan nilai-nilai akhlak yang luhur. Akhlak mendapatkan perhatian istimewa dalam aqidah Islam. Rasulullah SAW berdoa yang artinya : “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR. Ahmad dan al-Baihaqi). Islam menggabungkan antara agama yang hak dan akhlak. Menurut teori ini, agama menyarankan setiap individu untuk berakhlak mulia dan menjadikannya sebagai kewajiban (taklif) di atas pundaknya yang dapat mendatangkan pahala atau siksa baginya. Atas dasar ini agama tidak mengemukakan akhlak semata tanpa dibebani rasa tanggung jawab.Bahkan agama menganggap akhlak sebagai penyempurna ajaran-ajarannya karena agama tersusun darinya keyakinan (aqidah) dan perilaku. Oleh karena itu akhlak dalam pandangan Islam harus berpijak pada keimanan. Iman tidak hanya disimpan dalam hati, namun harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari dalam bentuk akhlak yang baik. Dengan kata lain bahwa untuk melatih dan menjalankan bagian aqidah dan ibadah, perlu juga berpegang teguh dan teguh dalam mewujudkan bagian lain yang disebut dengan bagian akhlak. Sejarah risalah ketuhanan dalam seluruh prosesnya telah membuktikan bahwa kesulitan dalam pekerjaan melukis lapangan hanya diperoleh dengan perjalanan budi pekerti (berakhlak mulia). Hasbi Ash Shiddieqy di dalam bukunya Al Islam mengatakan bahwa kepercayaan dan Budi pekerti dalam pandangan Al-Quran hampir dihukum satu, dihukum setaraf, sederajat. Lantaran demikianlah Tuhan yang melindungi kehormatan kepada akhlak dan meninggikan kedudukannya. Bahkan Allah memerintahkan seorang muslim memelihara akhlaknya dengan kata-kata perintah yang pasti, terang, dan jelas. Para muslim tidak dibenarkan sedikit pun menyia-nyiakan akhlaknya, bahkan tak boleh memudah-mudahkannya Aqidah tanpa akhlak adalah seumpama sebatang pohon yang tidak dapat dijadikan tempat perlindungan empati di saat panas dan tidak pula ada buahnya yang dapat dipetik. akhlak Melawan tanpa akidah hanya merupakan layang-layang bagi benda yang tidak tetap, yang selalu bergerak. Oleh karena itu Islam memberikan perhatian yang serius terhadap pendidikan akhlak.
Rasulullah SAW menyebutkan bahwa kesempurnaan iman seseorang terletak pada kesempurnaan dan kebaikan akhlaknya. Sabda beliau: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah mereka yang paling baik akhlaknya”. ( HR.Muslim) Demikian pula untuk melihat kuat atau lemahnya iman dapat diketahui melalui tingkah laku (akhlak) seseorang, karena tingkah laku tersebut merupakan perwujudan dari imannya yang ada di dalam hati. Jika perbuatannya baik, pertanda ia mempunyai iman yang kuat; dan jika perbuatan buruk, maka dapat dikatakan ia mempunyai iman yang lemah. Dengan kata lain bahwa iman yang kuat mewujudkan akhlak yang baik dan mulia, sedang iman yang lemahmewujudkan akhlak yang jahat dan buruk. Nabi Muhammad SAW telah menjelaskan bahwa iman yang kuat itu akan melahirkan perang yang mulia dan rusaknya akhlak berpangkal dari lemahnya iman. Orang yang marah tidak baik dikatakan oleh Nabi sebagi orang yang kehilangan iman. Dia pernah tidur: ”Malu dan iman itu keduanya bergandengan, jika hilang salah satunya, maka hilang pula yang lain”. (HR. Hakim) Kalau diperhatikan hadits di atas, nyatalah bahwa rasa malu sangat berpautan dengan iman hingga boleh dikatakan bahwa setiap orang yang beriman pastilah ia memiliki rasa malu; dan jika ia tidak mempunyai rasa malu, berarti tidak beriman atau lemah imannya. Aqidah erat kaitannya dengan akhlak. Aqidah merupakan landasan dan dasar pijakan untuk semua perbuatan.
Akhlak adalah tuntutan perbuatan baik dari seorang mukalaf, baik dipertentangkan dengan Allah, sesama manusia, maupun lingkungan hidupnya. Berbagai amal perbuatan tersebut akan memiliki nilai ibadah dan keseimbangan dari berbagai penyimpangan jika diimbangi dengan keyakinan aqidah yang kuat. Oleh sebab itu, keduanya tidak dapat dipisahkan, seperti halnya antara jiwa dan raga. Hal ini dipertegas oleh Allah SWT dalam Al-Quran, yang mengemukakan bahwa orang beriman yang melakukan berbagai amal shaleh akan memperoleh keharmonisan pahala disisi-Nya. Dia akan dimasukkan ke dalam surga Firdaus. Penegasan ini dikemukakan dalam firman Allah SWT.sebagai berikut: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka surga Firdaus menjadi tempat tinggal, Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak mau pindah darinya” (QS. Al-Kahfi: 107-108). Ayat di atas memperlihatkan betapa pentingnya aqidah dan akhlak, dengan keterpaduan keduanya seseorang akan memperoleh pahala yang besar di sisi Allah dengan jaminan surga Firdaus. Hubungan antara aqidah dan akhlak ini pemyataan dalam markas dalam markas Nabi Muhammad S AW yang diriwayatkan dari Abu Hurairah yang artinya: “Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW. Bersenang-senang, 'orang mukmin yang sempurna imannya adalah yang terbaik budi pekertinya'”. Dasar pendidikan akhlak bagi seorang muslim adalah aqidah yang benar, karena akhlak tersarikan dari aqidah dan pancaran dirinya. Oleh karena itu jika seorang berakidah dengan benar, niscaya akhlaknya pun akan benar, baik dan lurus. Begitu pula sebaliknya, jika aqidah salah maka akhlaknya pun akan salah. Dengan akhlak yang baik seseorang akan dapat memperkuat aqidah dan dapat menjalankan ibadah dengan baik dan benar, dengan itu ia akan mampu mengimplementasikan tauhid ke dalam akhlak yang mulia (akhlaqul karimah). Hubungan manusia dengan Allah SWT dan kelakuannya terhadap Allah SWT ditentukan
dengan mengikut nilai-nilai akidah yang ditetapkan. Karena barangsiapa mengetahui Sang
Penciptanya dengan benar, niscaya ia akan dengan mudah berperilaku baik sebagaimana mestinya
perintah Allah. Sehingga ia tidak mungkin menjauh atau bahkan meninggalkan perilaku-perilaku
yang telah ditetapkan-Nya. [5]
Kesimpulan
SEBUAH. Pendidikan aqidah Islam merupakan suatu proses usaha yang berupa pengajaran, bimbingan, pengarahan, pembinaan kepada manusia agar nantinya dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan aqidah Islam yang telah diyakini secara menyeluruh, mengembangkan dan memantapkan kemampuannya dalam mengenal Allah, serta menjadikan aqidah Islam itu sebagai suatu pandangan hidupnya dalam berbagai kehidupan baik pribadi, keluarga, maupun kehidupan masyarakat demi keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat dengan dilandasi oleh keyakinan kepada Allah semata. Keluarga adalah lingkungan hidup pertama dan utama bagi setiap anak. Dalam keluarga,
Orang tua bertanggung jawab membimbing anak-anak serta menanamkan nilai-nilai aqidah menjadi dasar penentu bagi mempertahankan kehidupan selanjutnya.Sebab dengan aqidah yang kuat akan mampu menjadi benteng bagi anak sehingga tidak mudah tergoncang jiwanya dan tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang dapat merusak keimanannya . Kaitannya dengan pendidikan aqidah Islam, penerapannya dalam keluarga diperlukan pula penggunaan suatu metode. Sehingga suasana dan lingkungan keluarga yang kondusif akan lebih membantu cara dan tehnik pendorong pendidikan aqidah bagi anak-anak. Yang dimaksud metode pendidikan aqidah dalam keluarga adalah cara yang dapat ditempuh dalam memudahkan tujuan pendidikan aqidah dalam keluarga.Diantara metode yang dapat digunakan orang tua dalam pendidikan Aqidah Islam pada anak diantaranya adalah mengenalkan kalimat tauhid, keteladanan, pembiasaan, nasehat, dan pengawasan. Yang mana semua metode itu saling berkaitan dan harus dilaksanakan secara layang-layang. oleh karena itu hasil dari pendidikan aqidah dalam keluarga tidak dapat dilihat langsung hasilnya. Namun berkembang secara terus menerus sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak. Penggunaan metode yang tepat akan mampu mewujudkan tujuan pendidikan yang diharapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Moh Muhtador dkk, “Pemberdayaan lembaga keagamaam dalam memperkuat aqidah Islam bagi masyarakat urban Kota Semarang” Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (Vol. 2 No. 1 thn 2011),
Nur Asyiah Siregar “ Aqidah Islam Analisa Terhadap Keshohihan Pemikirannya” Jurnal Aqidah Islam (Vol. 9 No. 1 thn 2020),
Ibnu Faris, Mu'jam Maqayis al-Lughah, kata-kata {aqada),
Yeri Utami, “Metode Pendidikan Aqidah Islam Pada Anak Dalam Keluarga” Jurnal Ilmiah Pedagogi (Vol. 14 No. 1 thn 2019),
Alnida Azty DKK, “Hubungan antara Aqidah dan Akhlak dalam Islam” Jurnal Pendidikan, Humaniora dan Ilmu Sosial ( Vol. 1 No. 2 thn 2018),
[1] Nur Asyiah Siregar “ Aqidah Islam Analisa Terhadap Keshohihan Pemikirannya” Jurnal Aqidah Islam (Vol. 9 No. 1 thn 2020), hlm 100
[2]Ibnu Faris, Mu'jam Maqayis al-Lughah, kata {aqada), juz. 4, h. 87-90.
[3]Yeri Utami, “Metode Pendidikan Aqidah Islam Pada Anak Dalam Keluarga” Jurnal Ilmiah Pedagogi (Vol. 14 No. 1 thn 2019), hlm 131-132
[4]Moh Muhtador dkk, “Pemberdayaan lembaga keagamaam dalam memperkuat aqidah Islam bagi masyarakat urban Kota Semarang” Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (Vol. 2 No. 1 thn 2011), hlm 84-85
[5]Alnida Azty DKK, “Hubungan antara Aqidah dan Akhlak dalam Islam” Jurnal Pendidikan, Humaniora dan Ilmu Sosial ( Vol. 1 No. 2 thn 2018), hlm 124-125

No comments:
Post a Comment